Habib Luthfi: Rasulullah Sangat Nasionalis
Nu Lampung - Rais Amm,
Jam’iyyah ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Jatman), Habib Luthfi
bin Ali bin Yahya memberikan Tausiyah dalam Silaturahim Mursyid Thariqah se-Indonesia
bersama TNI-Polri, di Pekalongan, Jawa tengah, Sabtu (24/1).
Dalam
silaturahim yang mengambil tema “Kebersamaan TNI, Polri dan Ulama, Untuk
Memperkuat Nilai-Nilai Sejarah UUD ’45 dan Pancasila, Dalam Membentengi NKRI
dari Pengaruh Kelompok Radikal dan ISIS, Serta Upaya Menuju Negara Poros
Maritim” tersebut, Habib Luthfi menyatakan bahwa apabila Ulama dan TNI-Polri
bersatu, Indonesia akan menjadi negara yang kuat.
“Apabila Ulama,
TNI dan Polri bersatu, rakyat sulit untuk dipecahbelah. Persatuan kita sangat
penting, untuk mengisi kemerdekaan dan membangun negara tercinta ini” terang
Habib.
Habib melihat,
membangun Bangsa Indonesia, tidaklah mudah. “Membangun negeri ini tidak semudah
membalik telapak tangan. Perlu waktu, perlu kesabaran dan keuletan. Saat
Nabiyullah Muhammad Saw diangkat menjadi rasul, perintah mendirikan shalat ada,
setelah 10 tahun. Artinya semua hal membutuhkan proses.
Habib
menceritakan, Rasulullah Saw sangat nasionalis dan selalu menanamkan rasa
nasionalisme kepada para sahabatnya. “Rasul Saw sangat mencintai Bumi Arab.
Beliau sering menyatakan diri; Saya adalah Bangsa Arab. Nah, untuk itu, kita
Bangsa Indonesia, harus bangga dan lantang menyatakan; Saya Orang Indonesia,
apa pun suku kita, baik Jawa, Sunda, Arab, India, China atau mana pun, jika
kita terlahir di negeri ini, teriakkan dengan lantang; Saya Orang Indonesia,”
ajak Habib.
Habib melihat,
dalam era global ini, silaturahim antaranak bangsa sangat dianjurkan, karena
mampu lebih mengakrabkan dan membersatukan. “Ulama, TNI dan Polri adalah orang
tua kita semua. Dan sebagai orang tua, harus memberi suri tauladan, jika tidak,
maka akan mengurangi kewibawaan ulama, TNI dan Polri sendiri.”
Habib prihatin
dengan kejadian-kejadian yang akhir-akhir ini menimpa Indonesia.
“ Saat ini,
Indonesia dengan mudah diobok-obok. Wibawa kita sebagai bangsa besar
dipertaruhkan. Meski demikian, sekali lagi, selagi Ulama, TNI-Polri bersatu,
kewibawaan Indonesia akan kembali lagi. Tidak perlu diperdebatkan, apa lagi
kita membahas hal-hal lain” terang Habib.
Habib melihat,
tugas setiap warga negara adalah mengisi kemerdekaan ini untuk hidup yang lebih
baik, namun hingga kini, banyak dari anak bangsa, masih mempeributkan hal-hal
sepele.
“Kita harus
berubah, ketika negara lain sudah maju, kita masih memperdebatkan tahlil,
maulidan, penentuan tanggal satu ramadhan, syawal dan lain sebagainya.
Bagaimana kita bisa maju? Negara luar, ada yang mempunyai nuklir, membuat
pesawat tempur, bom, kapal perang, pesawat reguler dan lain sebagainya. Apa
yang telah dilakukan negeri ini? Kedua, di bidang kedokteran, alat-alat bedah
dan lain sebagainya, negara luar yang memproduksi. Apa negara kita tidak mampu
mendirikan universitas tingkat internasional yang mampu mengangkat dunia Islam?
Lihat juga pertanian kita yang amburadul. Padalah kita mempunyai tanah yang
sangar luas dan subur,” urai Habib.
Habib melihat,
banyak hal di negeri ini yang bisa dimanfaatkan untuk menegaskan kebesaran
NKRI.
“Negeri ini
mempunyai posisi yang sangat strategis. Kita mempunyai jangkauan ke seluruh
penjuru dunia. Andai letak itu kita manfaatkan dengan baik dan benar, sisi
lain, kita kuat, kita akan menjadi negara yang besar, berwibawa dan makmur.
Negara tetangga pun akan berfikir panjang untuk macam-macam terhadap kita”
tambah Habib.
Habib juga
mengajak rakyat Indonesia untuk meniru air laut.
“Air laut
mempunyai jati diri dan nasionalisme yang luar biasa. Meski selalu mendapatkan
air tawar dari daratan dan hutan, meski mendapatkan bermacam-macam limbah,
namun air laut tetap berasa asin. Apa pun yang mengotori laut, tidak mampu
menghilangkan rasa asin air laut. Meski demikian, penghuni laut, tidak pernah
mengintervensi ikan air tawar. Mereka mampu memposisikan diri dengan sangat
luar biasa” tegas Habib.
Pangdam salut
Sebelumnya,
Pangdam IV Diponegoro yang membacakan pidato Panglima TNI, karena mendadak
dipanggil Presiden untuk mengurusi pengangkatan Airasia, salut dengan
silaturahim ini.
Secara pribadi,
saya salut dengan para Ulama, saya sangat bangga karena ada penyanyian
Indonesia Raya dan Pembacaan Pancasila. Sesuatu yang menurut saya sangat luar
biasa. Akan saya sampaikan kepada Panglima TNI peristiwa luar biasa ini” reaksi
Pangdam.
Dalam
kesempatan ini, Panglima TNI, melalui Pangdam IV Diponegoro mengucapkan terima
kasih yang tak terhingga atas undangan silaturahim ini. Panglima melihat,
silaturahim ini mampu memperkuat ukhuwah Islamiyah.
“Indonesia
sangat beragam dan plural. Kebhinnekaan, merupakan anugerah Allah SWT. Meski
demikian, kita mempunyai kesamaan pandangan dan persepsi, bagaimana cara
memecahkan masalah di negeri ini.” Terang Panglima.
Panglima
menyatakan, bahwa semangat Proklamasi haarus dipertahankan.
“Pancasila dan
UUD, mampu merajut persatuan untuk masa depan yang lebih baik dan adil.
Karenanya, NKRI adalah final. Pemahaman kita atas Pancasila akan menjaga dan
mempertahankan kelangsungan hidup dan keutuhan NKRI. Untuk itu, dibutuhkan
kesadaran kita, baik sebagai warga negara, maupun sebagai penyelenggara negara.
Negara wajib dan bertanggungjawab untuk mewujudkan cita-cita nasional dan
manivestasi cita-cita leluhur.” Urai Panglima.
Panglima
Moeldoko melihat, untuk mewujudkan cita-cita di atas, tantangan yang dihadapi
masyarakat dan bangsa ini sangat berat.
“Banyak sekali
tantangan dan ujian yang akan kita tempuh. Apalagi, di era globalisasi seperti
ini, dimana, negara-negara maju memegang peranan penting dan dominan. Untuk
itu, Setiap orang ditutut untuk loyal terhadap negara. Negara dan warga
negara harus saling melengkapi. Di sini ada hak dan kewajiban. Negara
wajib memberi kesejahteraan hidup dan keamanan lahir dan batin warganya, untuk
itu, negara harus menjamin hak-hak dasar waga negara sebagai manusia, yang
secara legal formal, tercantum dalam pembukaan UUD ‘45” tukas Moeldoko.
“Sebaliknya,
tambah Panglima, negara berhak atas perhatian warganya, di mana,setiap warga
negara, berhak dan wajib mempertahankan dan membela negara. Masa depan negara,
tergantung peran warganya” tambah Panglima TNI.
Hadir dalam
kesempatan tersebut jajaran TNI-Polri Jateng, DIY dan Jabar, Muspida kota Pekalongan,
Kakanwil Kemenag Jateng dan Kemenag Pekalongan Kota.
Selain dihadiri
ribuan mursyid dari 43 aliran Thariqah yang tergabung dalam Jatman seluruh
Indonesia, Silaturahim ini juga dihadiri juga beberapa syufi dari Syiria,
Zaman, Turki dan lain sebagainya. [Gpenk/001]. Sumber, nujateng.com
