Jihad Menghidupkan, bukan Mematikan
الحَمْدُ لِلهِ، الحَمْدُ لِله الَّذِيْ شَرَعَ عَلَيْنَا الجِهَادَ،
وَحَرَّمَ عَلَيْناَ الفَسَادَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ شهادَةَ أدَخَرَهَا لِيَوْمِ المِعَاد، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى
الرَّشَادِ. اللهمّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى
آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ. فَقَدْ قَالَ
اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا
الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ
الصَّابِرِينَ
Berbicara tentang kepahlawanan, biasanya mengundang pembicaraan tentang jihad. Karena tiada kepahlawanan tanpa jihad.
Ada kesalahpahaman tentang pengertian jihad. Ini mungkin disebabkan oleh
seringkalinya kata itu baru terucapkan pada saat perjuangan fisik, sehingga
diidentikkan dengan perlawanan bersenjata. Kesalahpahaman ini disuburkan juga
oleh terjemahan yang keliru terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, yang berbicara
tentang jihad, dengan anfus dan harta benda. Kata anfus seringkali
diterjemahkan dengan "jiwa". Terjemahan Al-Qur’an oleh Kementerian
Agama pun demikian. Misalnya:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ
فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ
أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi." (QS Al-Anfal: 72)
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا
وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أُولَٰئِكَ هُمُ
الصَّادِقُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS Al-Hujurat: 15)
Kata “anfus” dalam dua ayat di atas diterjemahkan oleh Kementerian Agama
dengan arti “jiwa”. Walaupun ada juga yang diterjemahkan dengan
"diri" seperti tercantum dalam Surat at-Taubah ayat 88.
Jamaah shalat jum’at hafidhakumullah,
Memang, dalam Al-Qur’an, banyak arti dari kata anfus, yaitu
"nyawa", "hati", "jenis", dan "totalitas
manusia" di mana terpadu jiwa raganya. Al-Qur’an mempersonifikasikan wujud
seseorang di hadapan Allah dan masyarakat dengan menggunakan kata nafs. Kalau
demikian, tidak meleset jika kata itu dalam konteks jihad dipahami dalam arti
totalitas manusia. Sehingga, kata nafs mencakup nyawa, emosi, pengetahuan,
tenaga dan pikiran, bahkan juga waktu dan tempat, karena manusia tidak dapat
memisahkan diri darinya. Pengertian ini dapat diperkuat dengan adanya perintah
berjihad tanpa menyebutkan nafs atau harta benda:
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ
جِهَادِهِ
"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya." (QS Al-Hajj: 78)
Sekitar 40 kali kata jihad disebut oleh Al-Qur’an dengan berbagai
bentuknya. Maknanya bermuara pada "mencurahkan seluruh kemampuan"
atau "menanggung pengorbanan". Mujahid adalah orang yang mencurahkan
seluruh kemampuannya dan berkorban dengan nyawa atau tenaga, pikiran, emosi dan
apa saja yang berkaitan dengan diri manusia. Sedangkan jihad adalah cara untuk
mencapai tujuan. Jihad tidak mengenal putus asa, menyerah, bahkan kelesuan, dan
tidak pula pamrih.
Jihad tidak dapat dilakukan tanpa modal, karena itu jihad disesuaikan
dengan modal yang dimiliki dan tujuan yang ingin dicapai. Sebelum tujuan
tersebut tercapai dan selama masih ada modal di tangan, selama itu pula jihad
dituntut. Karena jihad harus dengan modal, maka mujahid tidak mengambil tetapi
memberi. Bukan mujahid yang menanti imbalan selain dari Allah, karena jihad
diperintahkan untuk dilakukan semata-mata karena Allah.
Jihad adalah titik tolak seluruh upaya, karenanya ia adalah puncak segala
aktivitas. Ia bermula dari upaya mewujudkan jati diri, dan ini bermula dari
kesadaran. Karena itu Allah menekankan: Siapa yang berjihad, maka sesungguhnya
ia berjihad untuk dirinya sendiri. Allah Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu apa
pun dari seluruh alam (QS 29: 6). Dan kesadaran harus berdasarkan pengetahuan
serta bertentangan dengan paksaan. Karena itulah seorang mujahid bersedia
berkorban.
Jamaah shalat jum’at hafidhakumullah,
Beragam jihad, beragam pula buahnya. Buah jihad seorang ilmuwan adalah
pemanfaatan ilmunya, sementara buah jihad seorang karyawan adalah karyanya yang
baik, guru adalah pendidikannya yang sempurna, pemimpin adalah keadilannya,
pengusaha adalah kejujurannya, demikian seterusnya.
Dahulu, ketika kemerdekaan belum diraih, jihad mengakibatkan terenggutnya
nyawa, dan hilangnya harta benda. Namun bukan kematian itu sendiri yang menjadi
tujuan. Tujuan jihad waktu itu justru adalah demi lestarinya kehidupan yang
lebih baik di masa mendatang. Kalaupun nyawa melayang, itu adalah konsekuensi
logis totalitas perjuangan para pahlawan.
Karena itu, jihad para pahlawan revolusi yang menumpas penjajahan dan
ketidakadilan tak bisa disamakan dengan praktik bom bunuh diri yang dilakukan
di negara damai. Alih-alih menghidupkan, “jihad” semacam ini justru memunculkan
korban-korban dan masalah baru.
Kini, jihad harus membuahkan terpeliharanya jiwa, mewujudkan kemanusiaan
yang adil dan beradab, serta berkembangnya harta benda. Jihad juga bisa berarti
mencurahkan seluruh kemampuan dan berkorban dengan nyawa atau tenaga, pikiran,
emosi dan apa saja untuk membangun peradaban yang lebih baik dan maslahat.
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ
الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
"Apakah kamu menduga akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata pula yang tabah?" (QS Ali Imran: 142).
Semoga kita semua diberi kekuatan
dan petunjuk untuk bersungguh-sungguh dalam melaksanakan sesuatu, tanpa
menimbulkan kerugian bagi orang lain. Jihad sebagaimana yang dilakukan
Rasulullah: perjuangan untuk sebuah peradaban yang mengenal prinsip-prinsip ketuhanan
dan kemanusiaan.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ
وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ
مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ
رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Alif Budi Luhur/NU Online
* Mayoritas isi materi khutbah ini mengutip tulisan M. Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, 2007 (Bandung: Mizan).
