KH. Nashihin Asnawi, Kiyai Sederhana, Gigih dan Istiqomah
Lahir dari seorang ayah
bernama H. Asnawi bin mbah Mat Jaiz dan Ibu Hj. Sapuah binti mbah Suparman pada
tanggal 15 Februari 1940 M. / 6 Muharram 1359 H. Di desa Gaji Kecamatan Guntur
Kab. Demak Jawa Tengah.
Umur 5 tahun ibundanya telah meninggal lalu sang ayah menikah lagi
dengan ibu Sujironah binti Karsomanan yang meskipun ibu tiri tapi kasih
sayangnya tidak kalah dengan ibu kandungnya.
Meskipun dalam kondisi serba kekurangan, tapi orang tua beliau
punya semangat yang kuat, ingin sekali memondokkan anak-anaknya, akhirnya
keinginan itu terlaksana juga. Nashihin muda setelah lulus SR, memulai
pengembaraan spiritualnya di Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen asuhan
almaghfurlah mbah KH. Muslih Abdurrohman (Ketua Jam’iyah Ahlit Thoriqoh
Almu’tabaroh pertama kali), beliau seangkatan dengan Mbah KH. Misbahul
Munir Pengasuh Pondok Krasak Guntur Demak Jawa Tengah.
Ada cerita menarik ketika beliau berada di pp. Futuhiyah Meranggen.
Kurang lebih sudah 1 tahun beliau mondok, di Pondok tersebut ada banyak tamu
yang terdiri dari para habaib dan masyayekh.
Setelah acara bertamu selesai, ada salah satu habaib yang keliling
dari kamar ke kamar. Bukan santri kalau melihat habib atau kiyai tidak berebut
salaman dan mencium tangannya. Tetapi tidak seperti itu halnya Nashihin muda.
dia malah takut dan nyumput di pojok kamar. Oleh habib tersebut Nashihin muda
di tunjuk,,,” hayoo, yang nyumput di pojok siapa itu?.” Karena ketahuan
sembunyi akhirnya Nashihin muda menampakkan dirinya. Saat kepalanya nongol,
habib tadi bilang; “la itu nanti yang akan menjadi “Kyai Besar.’
Rupanya perkataan habib itu tidak membuat Nashihin muda bangga dan
lupa daratan. Perkataan itu malah membuat Nashihin muda lebih terpacu dalam
mencari ilmu sampai pada akhirnya meletus G30S PKI, yang memaksa beliau pulang
ke rumah karena krisis dan paceklik yang melanda pada masa itu.
Ketika sampai di rumah, sang ibu (tiri) menangis karena merasa
tidak berdaya dan tidak mampu untuk membiayai lagi, dengan berlinang air mata
sang ibu melepas cincin satu-satunya untuk dijadikan sangu/ bekal kembali ke
pondok, namun Allooh berkehendak lain, cincin tersebut di tengah jalan malah
jatuh ke tangan makelar yang menipu, sehingga pupus sudah harapan untuk mondok
lagi.
Akhirnya, Nashihin muda pun mukim di rumah dan mengisi kegiatannya sehari-hari dengan
mengadakan majlis mengaji bagi para anak dan teman-teman di lingkungan kampung/
desa.
Ketika umur 25 tahun, diiringi semangat mengaji yang tidak
pernah padam untuk menambah ilmu, Nashihin muda pergi ke Jawa Timur dengan tujuan
mencari ilmu, tabarrukan ke para Kyai-kyai dan pesantren-pesantren, sekaligus
silaturrohim kepada para famili,,,, sampai pindah dari satu Pesantre ke
pesantren yang lain dan termasuk kepada Mbah Kyai Mahfudz Kalangbret
Tulungagung (Tempat putranya Ahmad Muzammil di kemudian hari secara kebetulan
mondok, yang sekarang diasuh oleh putranya yaitu KH. Muhammad Hadi Mahfudz/ Gus
Hadi),
Sepulang dari Jawa Timur beliau menikah -+ pada umur 28 tahun dan
dari pernikahan ini beliau mempunyai anak satu (bermukim di jawa), tidak lama
sang istri istri meninggal dunia, lalu beliau menikah lagi dengan ibu Nyai
Suntayah (yang sampai sekarang ini) dan memiliki 5 putra-putri, yaitu Gus
Rofi’ul Bashori, Gus Ahmad Muzammil (keduanya inilah yang diamanati untuk
meneruskan kholifah kemursyidannya), Gus Ahmad Muhibbin, Neng Umi Nur Sa’adah,
Neng Anisatul Faizah.
Di rumah, beliau meneruskan perjuangannya; majis ilmu yang pernah
dirintisnya sudah semakin berkembang dari anak kecil sampai orang dewasa,
beliau juga merintis madrasah diniyah dan madrasah ibtidaiyah di desa tersebut,
dan beliau pun aktif dalam Kepengurusan organisasi NU.
Pada umur -+ 40 th, beliau ikut program kerja ke Iraq dan sekaligus
ditunjuk sebagai pemimpin rombongannya, selama di irak beliau memanfaatkan
waktunya untuk banyak ziarah ke makam para auliya’ Bagdad-Iraq termasuk makam
Syekh Abdul Qodir Jaelani, makam Sayyidinaa Ali RA, Sayyidina Husein RA, dan
lain-lain. 3 tahun berlalu kontrak selesai
dan akhirnya pulang ke tanah air.
Setahun dirumah ayah beliau H. Asnawi hendak pergi haji dan meminta
kepada beliau untuk didampingi, ketika prosesi haji sudah selesai dan hendak
pulang, beliau memohon izin kepada ayahanda ingin tetap tinggal di Makkah untuk
mencari ilmu (mengaji) dan sang ayah pun meridhoi dan malah mendukungnya.
Selama kurang lebih 3 tahun di Makkah beliau banyak mengaji dan
tabarukan dengan para Masyayekh di Masjidil Haram, diantaranya: Sayyid Muhammad
almaliki, Syekh Yasiin alfadani, Habib Asseghaf, Habib Jawwad, Habib Mas’ud
Mesir, dll.... dan pulang ke tanah air pada tahun 1988.
Dan ketika umur 50 thn beliau hijrah ke sumatra setelah yakin akan
hasil istikhoroh beliau disuruh mencari tempat dekat sungai dan beliau merasa
yang dimaksud itu adalah Runyai tempat rumah dalem beliau selama ini.....
begitu sudah menetap, semangat berjuang beliau tidak pernah padam,, beliau
mengajak bersama-sama dengan masyarakat sekitar untuk meneruskan pembangunan
masjid, merintis madrasah diniyah dan pesantren serta majlis-majlis ilmu
lainnya
Hingga pada suatu waktu beliau ingin mencari Guru Sejati, setelah
beliau sering beristikhoroh, beliau bermimpi, dalam mimpi tersebut beliau
bertemu dengan Syekh Abu Mi’roj Gading Mranggen (gurunya Mbah K. Masyhuri-guru
beliau) dan beliau di tempatkan duduk depan disebelah kirinya, tidak lama
datanglah Mbah K. Masyhuri disuruh duduk di depan sebelah kanannya, lalu oleh
Syekh Abu Mi’roj kepala beliau di tempelkan (gathukkan) dengan kepala mbah K.
Masyhuri dan kemudian Syekh Abu Mi’roj juga ikut menempelkan kepalanya jadi
satu..... dari sinilah lalu beliau merasa mantap bahwa guru yang selama ini
dicarinya adalah mbah K. Masyhuri Nawawi Demak.
Tidak lama dari itu beliau berangkat ke Jawa dan sowan kepada Syekh
Masyhuri Nawawi mohon berkenan menerima sebagai muridnya/ berbaiat Thoriqoh,
dan sang guru menjawab: “Nashikin, kamu selama ini memang sudah
kutunggu-tunggu, kamu cepat katam(selesai)kan ya ...”
Pada tahun ini pula sepulang dari berbaiat di Jawa, beliau mengundang
mbah KH. Abu Mansyur Sriwangi (Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah Jalur
Mbah Ali Hasyim Punggur Lapung Tengah - Baran Kediri) untuk membaiat jama’ah
Runyai dan beliau-pun langsung di pasrahi untuk membina para jama’ah baru
tersebut.
Tahun berikutnya saat bulan muharram beliau suluk/ kholwat lagi ke
Jawa, dan suluk baru berjalan 5 hari beliau langsung disuruh menggantikan Sang
Guru untuk memimpin tawajjuhan dan kegiatan-kegiatan pasulukan, dan sekaligus
buku utuh thoriqoh Sang Guru diserahkan supaya disalin oleh beliau.... dan
jelang akhir masa suluk, K. Masyhuri mengumpulkan para badal tepat jam 03.00
malam dan disitu beliau MENGIQRARKAN mengesahkan meresmikan kemursyidan kepada
beliau, ini terjadi pada th 1993.
Beliau pulang ke Sumatra dengan diberi wewenang membaiat murid
Thoriqoh, dan benarlah semakin pesatlah perkembangan Jama’ah Thoriqoh Pondok
Runyai sehingga sampai wafatnya (2017) sudah ribuan orang berbaiat thoriqoh
kepada beliau. 18. Dalam perjalanan memimpin jamaahnya, beliau pernah
berkholwat di kamar kecil pasulukannya selama kurang lebih 5 tahun dengan makan
tidur istirahat yang sedikit dan tidak keluar kecuali sangat perlu, dan ini
baru berhenti setelah dipaksa oleh putra-putri beliau karena badan beliau mulai
terserang sakit-sakitan.
Umur 73 beliau mulai jatuh sakit, dan terus berjalan sehingga
mengharuskan operasi...selang 3 tahun penyakitnya kambuh dan langsung semakin
bertambah parah, hingga akhirnya tepat pada Malam Jum’at, 24 Rojab 1438 H/ 20
April 2017 M. Beliau pulang ke hadirat kekasihnya Allooh SWT.
Dalam hari jelang wafatnya, beliau mendapat karomah dari Allooh SWT
dimana dua hari sebelumnya (rabu) beliau dawuh, "aku matine sok jum'at/
sabtu, tapi aku jaluk malem jum’at" dan benar beliau wafat malam Jum'at.
kamis pagi semua anak suruh kumpul minta didandani (ganti sarung
baju peci) lalu minta didudukkan dan berwasiat yg intinya "awakmu kabeh
wes tak ngapuro tak ridhoi, aku yo ngapuronen,,, terus temen ngibadahe lan
berjuange",,,
ba'da dhuhur semua yg hadir suruh baca yaasin baca qur'an dan
bahkan baca sholawat, sering sekali setiap selesai bacaan yasin dan entah atau
"apa itu (beliau seperti berdo’a sesuatu)", beliau sering-sering
menadahkan kedua tangan ke langit lalu mengusapkan ke wajah (ini seprti cerita
jelang wafat Syekh Baha'uddin Annaqsyabandi dalam manaqinnya),,,
bakda Ashar, Abah minta di dudukkan lagi, terus mengajak pamitan
salam-salaman kepada Anak-anak, cucu-cucu, dan semua para tamu penjenguk yang
banyak hadir di situ..
ba’da maghrib terus kutuntun dzikir ismu dzat “Allooh” dan nafi
itsbat “Laa Ilaaha Illa Allooh” dan beliau dengan suara beratnya masih sangat
jelas menirukannya,,,
ba'da isya' nafasnya semakin berat, lalu ku tuntun terus dzikir
ismu dzat dan nafi isbat dengan kaifiyyah menurut Thoriqoh ini, dan pas selesai
ku tuntun baca do'a penutup, lalu beliau dengan tenang "sowan" kepada
kekasihnya Allooh SWT...
Diantara Aklak-Aklak Beliau Antara Lain:
- Sangat sederhana sekali, baik segi makan/ pakaian/ tempat tinggal-fasilitas meskipun mampu untuk lebih dari itu. Sering beliau diberi hadiah semisal sarung, baju dll yang lalu dipakai sekali dua kali terus di sodaqohkan lagi kepada orang-orang sekitarnya.
- Semangat berjuang dan mengajinya sangat luar biasa, sehingga ketika penyakitnya sudah difonis berat/ parah sekalipun beliau tetap punya semangat sembuh yang kuat dengan satu alasan masih pengen ngaji sama santri, dan beliau pun tidak pernah mewakilkan kepada orang lain (termasuk putra-putranya) untuk menggantikan dalam memimpin kegiatan/ amaliyah selama beliau masih mampu, beliau juga akan memulai jadwal kegiatannya dengaan tidak peduli berapa jama’ah yang sudah berkumpul masih sedikit/ banyak... sehingga mungkin hasil dari istiqomah beliau dianugrahi suatu karomah Allooh yaitu banyak orang yang bertaubat dan atau masuk thoriqoh setelah didatangi/ bertemu beliau dalam mimpinya, bahkan ada orang yang sowan kepada beliau dan mengatakan bahwa beliau-lah guru yang selama bertahun-tahun dicarinya.
- Perhormatan kepada tamu yang luar biasa, setiap ada tamu beliau pasti meninggalkan semua kesibukannya, bahkan sering ketika ditengah makan beliau berhentikan karena ada “assalamu’alaikum” di depan pintu dan bersegera menemui tamu yang datang, karena memang banyak sekali orang dari semua kalangan yang memohon berkah do’a kepada beliau.
- Tegas sekaligus santun, sehingga sering santri kena ghodob bila malas-malasan berjama’ah dan atau melakukan kesalahan-kesalahan syar’i misalnya, dan santun karena tidak pernah membatasi pergaulan dengan siapapun, pejabat/ rakyat jelata dan bahkan kepada orang yang berkurangan mental sekalipun.
Silsilah Kemursyidan Beliau adalah sebagai berikut:
Syaikh Nashihin Asnawi dari Syaikh Masyhuri Nawawi, dari Saikh Abu
Mi’roj, dari Syekh Muhammad Hadi Girikusumo, dari Syaikh Sulaiman Zuhdi, dari
Syaikh Ismail al-Barusi, dari Syaikh Sulaiman al-Quraimi, dari Syaikh Kholid
Baghdadi, dari Saikh Abdullah Dahlawi, dari Syaikh Habibullah, dari Syaikh Nur
Muhammad al-Badwani, dari Syaikh Syaifudin, dari Syaikh Muhammad Ma’shum, dari
Syaikh Ahmad al-Faruqi, dari Syaikh Ahmad al-Baqi’ Billah, dari Syaikh Muhammad
al-Khawajiki, dari Syaikh Darwisy Muhammad, dari Syaikh Muhammad az-Zahid, dari
Saikh Ubaidillah Ahrar, dari Syaikh Ya’kub al-Jarkhi, dari Syaikh Muhammad Bin
Alaudin al-Athour, dari Syaikh Muhammad Bahaudin an-Naqsabandy, dari Syaikh
Amir Khulal, dari Syaikh Muhammad Baba as-Samasi, dari Syaikh Ali ar-Rumaitini,
dari Syaikh Mahmud al-Injiri Faqhnawi, dari Syaikh Arif Riwikari, dari Syaikh
Abdul Kholiq al-Ghajduwani, dari Syaikh Yusuf al-Hamadani, dari Syaikh Abi Ali
Al-Fadhal, dari Syaikh Abu Hasan Ali al-Kharwani, dari Syaikh Abu Yazid Thaifur
al-Busthoni, dari Syaikh Ja’far Shodiq, dari Syaikh Qosim bin Muhammad, dari
Syaikh Sayyid Salman al-Farisi, dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shidiq, dari Nabi
Muhammad saw, dari Jibril AS, dari Allooh Azza wa Jalla.
