Alih fungsi masjid
Perkembangan zaman yang
sangat pesat ini menuntut untuk berkembangnya suatu bangunan mulai rumah tempat
ibadah dan lain-lain, dengan adanya tuntutan perubahan zaman yang semakin
maju ini akhirnya banyak masjid yang
direnofasi, bahkan dalam merenofasi masjid ini ada pengalihan fungsi masjid
menjadi tempat parkir/tempat wudlu/WC. Pertanyaannya. “Bagaimana hukum pemugaran dan alih
fungsi masjid menjadi tempat parkir/tempat wudlu/WC.?”
Hukum pemugaran dan alih fungsi
masjid menjadi tempat parkir/tempat wudlu/WC diperbolehkan menurut sebagian
madzhab hambali. Disebutkan
dalam Kitab Matholibu Ulin Nuha. Juz 4, halaman 375, “Boleh meningkat
masjid jika penduduk setempat menginginkannya dan membuat kamar mandi dan WC
yang ada manfaatnya. Karena itu termasuk kebaikan (maslahah), seperti riwayat
Abi Daud. Jika demikian, jelas bahwa orang junub boleh duduk di WC itu, karena
sudah bukan masjid lagi. Tapi tidak boleh memindahkan masjid dari tempat satu
ke tempat lainnya walaupun sudah rusak”.
مطالب أولي النهى - (ج 4 / ص 375) (ويجوز
رفع مسجد) إذا (أراد أكثر أهل محلته) أي : جيرانه (ذلك) أي : رفعه (وجعل) تحت
(سفله سقاية وحوانيت) ينتفع بها نص عليه في رواية أبي داود لما فيه من المصلحة
وظاهره أنه يجوز لجنب ونحوه جلوس بتلك الحوانيت لزوال اسم المسجدية ولا يجوز نقله أي : المسجد إلى مكان غير مكانه
الأول ولو خرب.
Akan Tetapi menurut mayoritas Madzhab Syafi’iyah
tidak boleh
(قَوْلُهُ
وَلَا يُبَاعُ مَوْقُوْفٌ) أَيْ وَلَا يُوْهَبُ لِلْخَبَرِ الْمَارِ أَوَّل
الْبَابِ وَكَمَا يُمْتَنَعُ بَيْعُهُ وَهبتُهُ يُمْتَنَعُ تَغْيِيْرُ هَيْئَتِهِ
كجَعْلِ الْبُسْتَانِ دَارًا (إعانة الطالبين، ج 3، ص 179)
Menurut
Imam Subki, pemugaran
dan alih fungsi masjid
itu boleh, dengan Syarat; 1. hanya
sedikit dan tidak merubah status, 2. tidak menghilangkan
wujud tempat, dan 3. harus ada unsur maslahah.
