Pesan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari: Perpecahan, Akar Runtuhnya Negara
“Sesungguhnya
persatuan umat itu menyerupai jasad yang satu. Tiap-tiap individu menyerupai
anggotanya." Setelah menyeru tentang pentingnya menjalin hubungan dengan
landasan satu wadah nasionalisme negara bangsa, Hadratussyekh KH Muhammad
Hasyim Asy’ari dalam kesempatan pidatonya yang dirangkum dalam Muqaddimah Qanun
Asasi Nahdlatul Ulama menjelaskan lebih lanjut tentang bahaya dari suka memperuncing
masalah dan tercerai-berai.
Di
antara pidatonya adalah dengan menukil pendapat Imam al-Suyuthi sebagai
berikut:
فإن الإجتماع والتعاون والإتحاد والتآلف هو الأمر الذي لايجهل أحد منفعته،
كيف وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "يد الله مع الجماعة، فإذا شذ
الشاذ منهم اختطفته الشياطين كما يختطف الذئب من الغنم"
Artinya,
“Sesungguhnya, sikap sosial, saling tolong-menolong, menjaga persatuan, kasih
sayang dengan sesama adalah fakta yang tiada seorang pun tidak mengetahui
manfaatnya. Bagaimana mau menolak, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam pun pernah bersabda: “Kuasa Allah bersama jamaah (persatuan). Maka
dari itu, berpisah dari jamaah (persatuan), merupakan pintu masuk bagi
setan-setan untuk memangsanya sebagaimana serigala yang memangsa kambing yang
terpisah dari rombongannya.” (KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun
Asasi NU, hal. 23).
Dalam
kesempatan ini, Hadratussyekh menyitir banyak pendapat dari ulama dan atsar
shahabat. Melanjutkan dari menukil pernyataan al-Suyuthi di atas, selanjutnya,
beliau menyampaikan:
إن الله يرضى لكم ثلاثا ويكره لكم ثلاثا، فيرضى لكم أن تعبدوه
ولاتشركوا شيئا، وأن تعتصموا بحبل الله جميعا ولاتفرقوا، وأن تناصحوا من ولاه الله
أمركم ، ويكره لكم قيل وقال ، وكثرة السؤال، وإضاعة المال.
Artinya,
“Sesungguhnya Allah meridhai untuk kalian tiga perkara dan tidak menyukai untuk
kalian tiga hal. Allah meridhai untuk kalian (1) menyembah kepada-Nya dan tidak
menyekutukannya dengan sesuatu apa pun. (2) Allah ridha jika kalian berpegang
teguh pada talinya secara bersama-sama dan tidak menyukai perpecahan. (3) Allah
meridhai kalian saling memberi nasihat terhadap orang yang diutusnya untuk
mengurus urusan kalian. Allah tidak menyukai untuk kalian melakukan (1) saling
berbantah-bantahan, (2) banyak permintaan, dan (3) menyia-nyiakan harta” (KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun
Asasi NU, hal. 23).
‘Menyia-nyiakan
harta’ (idla’atu al-mal) masuk dalam bagian yang diperingatkan oleh beliau,
mengingat dalam ketercerai-beraian, ada banyak harta yang menjadi terbuang
sia-sia karena dihancurkan, baik oleh penjajah kolonial maupun oleh bangsanya
sendiri, seperti perusakan, perampokan dan mengambil hak orang lain tanpa hak.
Ini adalah bagian dari yang tidak disukai dan tidak diridhai oleh Allah.
Selanjutnya,
Hadratussyekh menyitir sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan
sanad sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu:
لاتحاسدوا، ولاتناجشوا، ولاتباغضوا، ولاتدابروا، ولايبيع بعضكم على
بيع بعض، وكونوا عبادالله إخوانا، رواه مسلم
Artinya:
“Jangan kalian saling iri dan dengki, jangan saling memprovokasi, serta jangan
saling membenci, saling memalingkan punggung, membeli barang yang sudah dibeli
oleh sesama kalian. Jadilah kalian bersama-sama dengan hamba Allah yang lain
seperti saudara” (HR Muslim).
Tidak
lupa beliau menyitir sebuah syi’ir sebagai perumpamaan:
إنما الأمة الوحيدة كالجســ × ــم وأفرادها
كالأعضـــــــــــاء
كل عضو له وظيــفة صنع × لاترى الجسم عنه
في استغناء
“Sesungguhnya
persatuan umat itu menyerupai jasad yang satu. Tiap-tiap individu menyerupai
anggotanya. Setiap anggota tubuh baginya tugas yang harus dilakukan, yang tubuh
tidak tahu bagaimana ia bisa melengkapi.”
Dalam
bagian akhir Muqaddimah Qanun Asasi ini, beliau menyampaikan sebuah seruan
mengenai bahayanya perpecahan. Beliau menyampaikan:
فالتفرق سبب الضعف والخذلان والفشل في جميع الأزمان، بل هو مجلبة
الفساد، ومطية الكساد، وداعية الخراب والدمار، وداهية العار والشتار، فكم من
عائلات كبيرة كانت في رغد من العيش، وبيوت كثيرة كانت آهلة بأهلها، حتى إذا دبت
فيهم عقارب التنازع وسرى سمها في قلوبهم وأخذ منهم الشيطان مأخذه تفرقوا شذر مذر
فأصبحت بيوتهم خاوية على عروشها.
Artinya,
"Memperuncing perbedaan adalah sebab bagi timbulnya kelemahan, kekalahan,
dan kegagalan suatu negara, kapan pun itu terjadi. Bahkan, perpecahan merupakan
akar bagi banyak timbulnya kerusakan, krisis multi dimensi, keruntuhan dan
robohnya sendi negara, serta akar bagi lahirnya jiwa-jiwa yang hina dan nista.
Berapa banyak contoh sudah, keluarga besar yang semula hidup makmur, rumah
tangga hidup rukun sesama anggota keluarga lainnya, namun semenjak keluarga itu
dihinggapi rasa suka memperuncing masalah yang bagaikan kalajengking dengan
bisanya yang meracuni hati dan perasaan mereka, maka setan pun melakukan
perannya, memporak-porandakan kerukunan mereka dan meluluhlantakkannya.” (KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun
Asasi NU, hal. 23).
Dengan
menyitir maqalah dari Sayyidina Ali karammallahu wajhah, beliau menyampaikan:
إن الحق يضعف بالإختلاف والإفتراق، وإن الباطل قد يقوي بالإتحاد
والإتفاق
Artinya,
“Sesungguhnya perkara yang haq dapat berubah menjadi lemah disebabkan banyaknya
perbedaan dan perpecahan. Demikian sebaliknya, perkara yang bathil dapat
berubah menjadi kuat disebabkan karena persatuan dan kekompakan mereka.” (KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Muqaddimah Qanun
Asasi NU, hal. 23).
Mungkin,
pernyataan Sayyidina Ali karamallahu wajhah ini menyerupai sebuah adagium yang
akhir-akhir ini marak disebarkan. Bahwa: “Kebohongan yang diulang-ulang akan
berubah menjadi kebenaran yang diakui bersama.” Dan ini yang merupakan bagian
yang diperingatkan oleh Hadratussyekh dan mendapatkan penekanan dalam beberapa
bagian.
Walhasil,
persatuan penting dijaga, dan sebab bagi timbulnya perpecahan bangsa bersifat
wajib untuk dihindari. Karena bangsa ini utuh dengan bersatunya warganya, dan
bisa pecah dan runtuh juga disebabkan oleh perpecahan warganya.
Wallahu
a’lam bish shawab.
Ustadz
Muhammad Syamsudin, Tim Peneliti Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
Sumber
Konten adalah milik dan hak cipta www.islam.nu.or.id
